Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

Perubahan Sosial dan Budaya


Oleh: Hadiranto Harefa


          Kehidupan manusia bermasyarakat terwujud dalam berbagai tindakan sosial, yaitu antara tindakan para pelaku dalam kegiatan-kegiatan sosial dengan sesama mereka atau dalamkebersamaan, untuk kepentingan pemenuhan berbagai kebutuhan untuk hidup mereka.Tindakan-tindakan sosial para pelaku selalu dilakukan secara spontan dan selalu diselimutioleh unsur-unsur emosi dan perasaan; sehingga dibedakan dari tindakan-tindakan formal ataurasional yang berlaku dalam kegiatan-kegiatan korporasi atau birokrasi. Tindakan-tindakansosial, yang menghasilkan adanya hubungan-hubungan sosial antara warga masyarakat,terwujud dalam berbagai kegiatan pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat tersebut.Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pelaku tersebut selalu berpedoman pada norma-norma dan peranan-peranan serta serta nilai-nilai yang ada dalam pranata sosial yang bersangkutan. Selanjutnya, nilai-nilai, norma-norma, dan peranan- peranan yang ada dalam pranata sosial tersebut berpedoman pada kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.


       Perubahan sosial atau perubahan dari norma-norma, peranan- peranan sosial, dan pranata-pranata sosial yang berlaku dalam kehidupan sosial sebuah masyarakat dapat terjadikarena adanya perubahan dalam lingkungan hidup masyarakat tersebut, karena perubahandalam jumlah dan komposisi penduduk yang menjadi warga masyarakat tersebut, karenaadanya peminjaman sesuatu unsur kebudayaan lain dan karena adanaya penemuan (discovery)dan penciptaan (invention) dalam kehidupan ekonomi, teknologi, keyakinan, dan berbagaiaspek kehidupan lainnya dari masyarakat tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi didalam lingkungan hidup dari masyarakat dan begitu juga perubahan demografinya,menyebabkan bahwa pedoman-pedoman yang ada dalam kebudayaan masyarakat tersebuttidak lagi dapat digunakan atau kurang efektif penggunaannya dalam mengatur kehidupan dandalam menghadapi lingkungan hidup dari masyarakat tersebut. Karena itu, nilai- nilai, norma-norma, dan peranan-peranan yang secara keseluruhan merupakan sistem, yang digunakanuntuk upaya-upaya pemenuhan kebutuhan bagi hidup mereka harus dirubah, yang perubahan- perubahannya disesuaikan dengan lingkungan yang telah berubah tersebut. Perubahan- perubahan tersebut telah menghasilkan adanya perubahan-perubahan kebudayaan dankebudayaan yang berubah tersebut, sebagai pedoman acuan kehidupan sosial, telahmenghasilkan adanya perubahan sosial.Dalam kasus pengambil alihan unsur-unsur kebudayaan dari luar, tejadi penemuan dan penciptaan, prosesnya selalu dimulai secara individual oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Unsur- unsur kebudayaan yang diambil dari luar, yang ditemukan, atau yangdiciptakan biasanya dimulai dengan penggunaannya secara individual oleh yang bersangkutankarena dirasakan sebagai menguntungkan. Dengan demikian maka perubahan yang terjaditerwujud pada tingkat individual dan tidak pada tingkat kehidupan sosial dari masyarakattersebut. Perubahan yang terjadi pada tingkat kehidupan sosial atau perubahan sosial, baruakan terjadi pada waktu keuntungan yang dirasakan secara individual tersebutdikomunikasikannya dengan para warga lainnya tersebut juga merasakan keuntungan yangdiperoleh karena menggunakan unsur-unsur kebudayaan baru di dalam kehidupan mereka.Unsur-unsur kebudayaan baru tersebut diakomodasikan didalam norma-norma, peranan- peranan para pelaku, dan diberi muatan nilai-nilai sesuai kebudayaan yang ada. Dengandemikian terjadilah perubahan di dalam kehidupan sosial dari masyarakat tersebut, yangacuannya adalah perubahan kebudayaan, yang terwujud sebagai corak atau pola-pola kehidupan sosial yang berbeda dari pada yang telah ada sebelumnya.Bila diperhatukan mengenai proses-proses terjadinya perubahan sosial, maka terlihatadanya dua cara: yaitu;
1.Terpaksa berubah karena terjadinya perubahan dalam lingkungan (termasuk  perubahan demografi), yang dalam keadaan perubahan tersebut para wargamasyarakat tidak mempunyai alternatif lainnya selain menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya, karena lingkungan itulah tempat mereka hidup dan yangmenghidupi mereka.
2.Terjadi secara sukarela, bertahap dari yang sederhana menjadi kompleks. Dilakukanoleh individu-individu warga masyarakat yang bersangkutan karena perubahan sosialdan budaya tersebut dirasakan sebagai menguntungkan bagi kehidupan mereka.

Faktor Pendorong Perubahan 
    Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahantersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yangdiharapkan. Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan.

Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahansosial, yaitu: 
1.Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampumenghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada.
2.Sistem pendidikan formal yang maju.Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuahmasyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilaiapakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak.
3.Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.
4.Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapatmerupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapatdiberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
5.Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atauhorizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagimempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal inimembuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuandirinya.
6.Penduduk yang heterogen.Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akanmudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaandemikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakatuntuk mencapai keselarasan sosial.
7.Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentuRasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkanreaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya.
8.Orientasi ke masa depanKondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan dengan perubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakatselalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yangdisesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.  
9.Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yangtidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Usaha-usaha inimerupakan faktor terjadinya perubahan.Banyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan.

       Delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial, yaitu:
1.      Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
2.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang telambat.
3.      Sikap masyarakat yang menganggungkan tradisi masa lampau dan cenderung konserfatif.
4.      Adanya kepntingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat.
5.      Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan yang menimbulkan perubahan aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
6.      Prasangka terhadap hal-hal baru antau asing, terutama yang berasal dari barat.
7.      Hmabatan-hambatan yang bersifat ideologis.
8.      Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar berubah.

Harapan Kedepan
Masyarakat manusia di manapun tempatnya pasti mendambakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan yang optimal. Kondisi masyarakat secara obyektif merupakan hasiltali temali antara lingkungan alam, lingkungan sosial serta karakteristik individu. Ketiga-tiganya selalu berhubungan antara satu sama lain sehingga membentuk sebuah bangunanmasyarakat yang dapat dilihat sebagai sebuah realitas sosial. Perjalanan panjang dalamrentangan periode kesejarahan telah mengajak masyarakat manusia menelusuri hakikatkehidupan dan tata cara kehidupan yang berkembang pesat. Kemampuan akal budi sebagaiinstrumen unggulan manusia telah melahirkan beraneka ragam karya cipta melesat melampauiaspek-aspek material dilingkungan luarnya. Dengan demikian, senjata pamungkas tersebutrupanya berperan besar menafsirkan realitas sosial yang selama ini dipandang sebagaikenyataan alamiah yang steril dari kemungkinan intervensi kekuatan manusia. Kiranyasemenjak diakuinya kemampuan akal mengungkap kekuatan alam, secara perlahan-lahankalangan pemikir mulai melirik masyarakat sebagai obyek yang mampu dipahami gejala gejalanya lalu dikendalikan dan disusun rekayasa sosial berdasarkan pemahamanmenyeluruh tentang kondisi obyektif msayarakat tersebut. Lahirnya ilmu-ilmu sosialkhususnya sosiologi manandai bahwa masyarakat sebagai kenyataan kini dipahami sepertisebuah benda yang bisa “diutak-atik”. Begitu pula tentang perubahan sosial, terlepas dari berbagai definisi perubahan sosial, pada hakikatnya telah mampu mengungkap hukum-hukumdan antisipasi proses-proses sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap peradabanmanusia. Apabila perubahan sosial dipahami sebagai suatu bentuk peradaban manusia akibatadanya ekskalasi perubahan alam, biologis maupun kondisi fisik maka pada dasarnya perubahan sosial merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi sepanjang hidup. Ruang gerak  perubahan itupun juga berlapis-lapis, dimulai dari kelompok terkecil seperti keluarga sampai pada kejadian yang paling lengkap mencakup tarikan kekuatan kelembagaan dalammasyarakat. Perubahan sosial sebagai “cetak biru” pemikiran, pada akhirnya akan memiliki manfaat untuk memahami kehidupan manusia dalam kaitan dengan lingkungankebudayaannya. Kehidupan manusia adalah satuan sosial terkecil, dalam pola belajarnya akan berhadapan dengan tiga sistem aktivitas. Bahwa manusia akan menjumpai lingkungankomunitas masyarakat: manusia akan belajar dari lingkungan komunitasnya sehinggamencakup peran serta masyarakat, kelompok-kelompok belajar sepanjang hidup, birokrasiyang mendukung, sumber informasi yang luas dan beragam dll. Dengan begitu kehidupanmanusia tidak dapat dilepas dari peran ketiga lingkungan sistem aktivitas belajar danmencermati dirinya, terbentuknya kesadaran, pengalaman yang menggelitas dan keberanianuntuk mulai menapak menggunakan potensi yang dimilikinya. Analogi dengan pemikiran itu,apa yang dapat dinyatakan dengan lengkap, perubahan sosial adalah suatu proses yang luas,lengkap yang mencakup suatu tatanan kehidupan manusia. Perubahan sosial tidak hanya dilihat sebagai serpihan atau kepingan dari peristiwa sekelompok manusia tetapi fenomena itumenjadi saksi adanya suatu proses perubahan empiris dari kehidupan umat manusia.Perubahan sosial akan mempengaruhi segala aktivitas maupun orientasi pendidikan yang berlangsung. Intervensi kekuatan proses tersebut juga mencakup semua proses yang terjadi di berbagai sektor masyarakat. Baik dari tingkat basis keluarga sampai interaksi antar pranatasosial. Sebagai bagian dari pranata sosial, tentunya pendidikan akan ikut terjaring dalamhukum-hukum perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Sebaliknya, pendidikansebagai wadah pengembangan kualitas manusia dan segala pengetahuan tentunya menjadiagen penting yang ikut menentukan perubahan sosial masyarakat ke depan.

 Penulis adalah seorang Mahasiswa dan Pemerhati Sosial, Politilk dan Lingkungan.

Kamis, 29 November 2012

Keindahan Nias dari Ujung ke Ujung

Tiga bocah berlarian di tepi pantai mengejar ban bekas yang mereka gelindingkan. Bayangnya terpantul di genangan air laut kala sinar lembayung membingkai sore itu, Sabtu (8/1/2011). Perpaduan warna langit, ombak laut, pasir, dan aktivitas warga menjadi panorama yang begitu indah memancing siapa saja untuk berlama-lama tinggal.

Tak jauh dari anak-anak itu, seorang pelancong penuh konsentrasi memperagakan gerakan-gerakan yoga. Angin laut yang segar amat membantunya menghilangkan lelah setelah perjalanan jauh.

Itulah sekelumit keindahan Pantai Moale, Nias Selatan. Pantai Moale adalah satu dari 14 pantai indah di pulau Nias. Pantai ini memiliki garis pantai yang lurus dan panjang. Bagi para pelancong, titik ini menjadi obyek yang wajib dikunjungi. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan darat dari Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, atau sekitar tiga jam perjalanan dari Gunung Sitoli, Nias Induk. Di pantai ini berdiri kafe dan beberapa gubuk kecil berkapasitas enam sampai delapan orang untuk sekadar duduk-duduk menikmati indahnya laut.

”Pantai Sorake di Nias Selatan juga bagus banget saat matahari terbit. Di bulan Juni-Juli banyak turis bertandang untuk berselancar,” ujar Darman, sopir yang membawa Kompas keliling Nias. Sayang,Kompas tidak sempat mampir ke pantai lantaran hujan lebat.

Pantai di Nias Barat pun tak kalah menggoda. Persisnya di Desa/Kecamatan Sirombu, Nias Barat. Di sore hari, pelancong bisa menikmati para penggembala menggiring sapi untuk pulang melewati pantai. Pemandangan itu begitu unik ketika sapi-sapi itu berlarian berarak di atas pasir pantai, sementara suara deru kaki-kakinya beradu dengan bunyi ombak laut yang tiada henti menepi.

Di desa ini berdiri pelabuhan yang pemandangannya begitu indah karena sekitar satu mil dari pelabuhan terdapat pulau-pulau kecil seperti Pulau Asu dan Pulau Bawa. Ombak di pulau ini dulu mencapai tujuh sampai 10 meter sehingga banyak peselancar memacu andrenalinnya di sana. Keindahan alam bawah lautnya pun memesona untuk para penyelam.

”Sekarang sudah jarang peselancar bermain di sini. Akibat tsunami, ombaknya tidak sebesar dulu lagi,” kata seorang pemilik warung di Sirombu.

Sekadar catatan, desa Sirombu mengalami kerusakan paling parah ketika tsunami menghantam Nias pada akhir Desember 2004. Puing-puing bangunan di pantai Sirombu mampu ”memberi” kabar betapa dahsyatnya daya rusak tsunami dan betapa berat penderitaan warga kala itu. Saat itu tercatat 850 korban meninggal dan 35.000 rumah hancur dan rusak. Sebagian besar terdapat di Sirombu.

Masih ingin menjelajah pantai? Cobalah berkunjung ke Afulu di Nias Utara. Selain terdapat pantai pasir putih, pantai ini juga menyajikan keindahan pasir merah. Masyarakat Nias Utara menyimpan cerita tentang naga raksasa jahat yang tewas di tangan seorang pendekar sakti. Darah naga mengalir dan menyebabkan sepanjang pantai berwarna merah. ”Itu yang diyakini warga,” kata Elisman Nazara, warga Nias Utara.

Wisata budaya

Bila bosan menikmati keindahan alam, pelancong bisa menikmati wisata budaya Nias yang masih sangat kental, terutama di Nias Selatan. Desa-desa adat, situs-situs megalitikum (batu besar), serta cerita yang melingkupinya amat menarik. Tanpa mengunjungi tempat-tempat tersebut, cerita mengenai keagungan megalitikum atau keunikan desa-desa adat terasa hambar.

Cobalah kunjungi situs megalitikum di Desa Lahusa Idano Tae, Kecamatan Gomo. Batu-batu ukuran raksasa itu merekam sejarah kebudayaan bagaimana para pendahulu warga Nias berperilaku. Nilai-nilai luhur dan kearifan lokal terekam abadi di antara batu-batu andesit itu. ”Batu-batu itu menjadi saksi bagaimana pendahulu kami berupaya dan berjuang demi martabat,” kata Atoli alias Ama Gustav, pemuka adat di Desa Lahusa Idano Tae.

Menyaksikan batu yang beratnya berton-ton dengan ketinggian hingga 1,5 meter itu, terbayang bagaimana suku Nias mengukir, menata, dan mengangkatnya. ”Saya sendiri masih belum bisa membayangkannya,” kata Ama Gustav yang dipercaya sebagai generasi ke-11 dari generasi pertama suku Nias.

Sayangnya, situs megalit di Lahusa Idano Tae yang diagungkan warga itu tidak terawat sehingga tidak menarik secara visual. Berbeda dengan megalit di desa Orahili Fau dan Bawomataluo, Kecamatan teluk Dalam. Batu-batu itu begitu terawat dan masih dimanfaatkan warga untuk sekadar duduk-duduk atau untuk upacara adat.

Hampir di halaman setiap rumah terdapat batu besar sepanjang 1,5 meter, lebar 1 meter, tebal 20 sentimeter. Beberapa ukurannya sedikit lebih kecil. Peninggalan leluhur Nias berupa megalit itu terdapat pula di Desa Ulayama, Kecamatan Lolowa’u, dan Onolimbu, Nias Barat.

Khusus di desa Bawomataluo, pelancong bisa menikmati sajian Tari Perang (Baluse) dan lompat batu (hombo batu), dua tradisi Nias yang amat terkenal itu. Dua tradisi ini sekarang kerap diperagakan khusus untuk menjamu para pelancong, tentu tidak gratis. ”Untuk peragaan tari perang biasanya kami minta tarif Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Dana ini untuk para pemain yang jumlahnya mencapai 50 orang,” kata Hikayat Manao, tokoh masyarakat Nias.

Daya tarik budaya dan keindahan alam Nias seolah tiada habisnya meskipun pernah dikoyak tsunami. Dari ujung utara sampai ujung selatan Nias menyajikan keindahan yang sulit ditemukan di tempat lain. Sayangnya, infrastruktur dan fasilitas lain kurang mendukung keindahan itu. Jika pemerintah serius memerhatikan Nias, tentu potensi-potensi itu bisa menjadi sumber kesejahteraan dan kemajuan warga Nias.
Oleh: Mohammad Hilmi Faiq

Ini Dia, Objek Foto Menarik di Nias

Objek Foto Menarik di Nias
Lompat batu menjadi salah satu andalan wisata budaya Nias.
Sejauh ini lokasi-lokasi yang menjadi labuhan fotografer dan pencinta fotografi di Pulau Nias tidak lebih di seputar lokasi yang sudah sangat dikenal masyarakat, seperti batu megalit di Gomo, atraksi lompat batu di Bawamataluo, Telukdalam; ombak tinggi di Pantai Sorake dan Lagundri, Telukdalam; serta kluster perkampungan dengan rumah eksotis rumah adat di Telukdalam dan di Gunungsitoli.

Kali ini penulis mencoba menawarkan sebagian kecil obyek dan tempat lain di Pulau Nias, khususnya di Gunungsitoli dan sekitarnya, yang layak dipertimbangkan untuk dijadikan sasaran blitz para penggemar fotografi untuk berburu foto.

Konvoi Sepeda Anak Sekolah
Pemandangan ini bisa terlihat setiap pagi di sepanjang jalan pelabuhan udara Binaka ke arah Gunungsitoli. Anak-anak sekolahan yang mengayuh sepeda angin, yang dalam bahasa lokal disebut kureta, secara bergerombol menuju sekolah mereka di pusat Kota Gunungsitoli. Dari simpang Miga hingga Jalan Diponegoro menuju Jalan Pendidikan, Gunungsitoli—lokasi gedung sekolahan—adalah tempat yang cukup representatif untuk dijadikan obyek bidikan kamera. Hal itu karena jalur jalan itu sebagai tempat bertemunya siswa-siswa dari arah Kecamatan Bukit Serangkai (Botombawö) dan siswa yang datang dari arah Bandara Binaka. Momen ini hanya terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00-07.00 serta pada jam pulang anak sekolah sekitar pukul 13.00-15.00.
Titik Hili Miga bisa dijadikan salah satu tempat untuk menjepret, di mana di jalan yang sedikit menanjak itu menjadi tantangan pertama bagi siswa mengayuh sepedanya dalam porsi lebih. Nah, di Hili Miga ini adu kuat sering diperlihatkan, ada sebagian yang harus turun dari kureta (sering dilafalkan gureta) dan juga ada yang terus laju. Titik lain adalah daerah Kilometer 11 hingga 12 ke arah Bukit Serangkai. Sepanjang jalan itu adalah tanjakan dan memaksa siswa-siswi yang pulang dari sekolah harus turun dan menenteng sepedanya.
Geliat Pasar Nou dan Harimbale
Disebut Pasar Nou karena lokasinya membelakangi Sungai Nou. Pusat kulakan terbesar di Kota Gunungsitoli tersebut perlu direkam karena merupakan jantung transaksi jual-beli kebutuhan pokok masyarakat Kota Gunungsitoli. Harimbale (arti harfiahnya hari belanja) adalah pasar kampung yang dilakukan pada hari-hari tertentu sekali dalam seminggu.
Bila Anda dari Binaka menuju Gunungsitoli pada hari Jumat maka Anda akan melewati Harimbale Foa. Bila itu hari Senin, Anda akan mendapati hiruk-pikuk pasar kampung di Humene. Pada hari pasar kampung itu warga menjual hasil pertaniannya dan ternaknya, seperti karet, pisang, ubi, babi, ayam. Harimbale dibuka mulai dari pagi hari hingga tengah hari sekitar pukul 13.00.
Pedagang Ikan Segar
Sepanjang pesisir di Gunungsitoli di tepi jalan banyak kios (saung) yang menjual berbagai macam hasil tangkapan ikan segar tanpa menggunakan pengawet apa pun. Pagi sampai siang hari menjadi waktu yang tepat untuk memotret aktivitas warga ini.
Sihambu atau Pandai Besi
Profesi pandai besi di Pulau Nias sudah mulai langka. Warga Nias sudah mulai kesulitan untuk mencari pandai besi. Satu tempat yang NBC ketahui di Mazingö, Desa Hiligodu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan. Akankah Ama Sudi, nama si pandai besi itu, bisa menurunkan keterampilan menempa besi menjadi barang tajam untuk keperluan rumah tangga itu kepada generasi di bawahnya, atau warga Nias harus mengimpor parang dari Sibolga?
Pantai Wisata
Beberapa pantai yang selama ini menjadi tempat kunjungan wisatawan seperti Pantai Laowömaru, Pantai Foa, Pantai Muara Kasih sudah sangat memprihatinkan kondisinya. Tidak ada usaha perbaikan oleh pihak-pihak berwenang untuk menghidupkan tempat wisata itu.
Penyulingan Tuak
Industri rumahan ini sangat populer di Nias. Air nira dari pohon kelapa dan enau disuling untuk menghasilkan tuak yang mengandung alkohol hingga 80 persen. Dalam bahasa lokal hasil sulingan itu disebut tuo nifarö (tuak yang disuling). Para pemburu foto bisa merekam proses pembuatan tuak ini dengan mendatangi daerah sekitar Gidö di Kilometer 20 hingga Km 22 di Desa Lölözasai. Keluar dari Bandara Binaka, juru foto mengambil arah kiri dan bisa mendapati industri ini.
Masih banyak lagi tempat yang perlu direkam oleh para peminat foto di Nias. Berbekal sedikit usaha untuk bertanya dan menggali informasi dari warga setempat, tempat-tempat eksotis selain tersebut di atas bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh di kamera para pencinta fotografi. Selamat berburu foto di Nias. 
Sumber : Kompas (Nias-Bangkit/Harazaki)

Pantai Charlita, Wisata Baru di Nias

Mencari obyek wisata pantai di Kota Gunungsitoli tidaklah susah. Di Gunungsitoli Utara ada pantai Charlita, sebuah kawasan wisata yang selalu ramai dikunjungi masyarakat setempat untuk melepas kepenatan atau sekadar memandang laut lepas dari bilik pondok yang berjejer menghadap samudra.
Pantai Charlita
Berada di Desa Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara, sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Gunungsitoli, menjadikan obyek wisata ini mudah dijangkau. Menuju lokasi, kendaraan roda dua dan empat melewati jalan setapak yang berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya.

Tapi ingat, bila sampai di persimpangan, Anda harus berbelok ke arah kanan menuju Pantai Charlita, sebab tidak jauh dari lokasi terdapat obyek wisata lain.

Nama Charlita sendiri diambil dari nama anak pertama sang pemilik obyek wisata ini yakni Charlita Zega atau lebih sering disingkat Carla Zega.

Obyek wisata yang berdiri tahun 2006 ini awalnya adalah sebuah kawasan tepi pantai yang sepi pengunjung. Namun setelah dikelola oleh Anita Yuniar Telaumbanua (37), tepi pantai yang semula sepi berubah menjadi kawasan yang setiap hari selalu ramai dikunjungi, baik masyarakat sekitar maupun dari daerah lain.

“Awalnya saya tidak tertarik menjalankan usaha ini. Tapi karena saya orangnya tidak bisa diam, apa usaha yang bisa saya lakukan akan saya kerjakan,” tutur Anita.

Pantai Charlita yang memiliki luas 8,5 hektar itu, menawarkan berbagai fasilitas, antara lain penginapan, Karaoke TV (KTV), hall badminton, aula, pondok, live music, restoran dan kolam renang. Tak perlu khawatir dengan waktu, karena 15 pekerja tetap dan 10 pekerja lepas yang siap melayani Anda 24 jam.

Untuk penginapan, tersedia 10 kamar yang bertarif Rp 125.000 hingga Rp 250.000 per 24 jam. Bagi Anda yang hobbi bernyanyi, berkaraoke bersama keluarga atau teman menjadi pilihan, karena tersedia 2 KTV dengan tarif Rp 80.000 per jam dengan kapasitas 6 orang dan Rp 50.000 untuk KTV yang berkapasitas 4 orang.

“Kalau live music hanya malam hari mulai pukul 8-11 malam,” ujar pemilik Charlita yang biasa dipanggil Ina Charlita Zega.

Disini juga ada 10 pondok, berkapasitas 4 hingga 10 orang. Masing-masing pondok juga diberi nama unik berupa nama bunga seperti mawar dan teratai. Begitu pula bila ingin membuat sebuah acara yang mengharuskan mengundang teman atau keluarga hingga ratusan orang juga jangan khawatir karena ada 2 aula berkapasitas 200 dan 300 orang.

Sementara untuk menu yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yang umum seperti nasi goreng, mie ayam dan gado-gado, atau seafood seperti ikan bakar, udang saus tiram dan cumi goreng. Harganya antara Rp 10.000 sampai Rp 100.000. Minuman ringan dan jus juga tersedia untuk menemani pesanan Anda.

“Charlita kebanyakan dikunjungi orang untuk makan dan berenang,” kata Ina Charlita Zega. Namun seiring dengan semakin bertambahnya fasilitas yang disediakan, menurut Ina Charlita, obyek wisata yang dikelolanya juga sering dikunjungi oleh para tamu dari luar daerah Nias.

Daerah Gunungsitoli memang memiliki banyak kawasan tepi pantai yang indah namun belum dikelola dengan maksimal. Padahal bila dikelola dengan baik, tentu dapat memberikan sumbangan yang besar bagi kemajuan masyarakat disekitarnya.

“Saya rasa obyek wisata pantai itu akan dicari karena masyarakat Nias memang sangat membutuhkan tempat hiburan dan rekreasi,” begitu komentar Ina Charlita.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pantai Charlita yang dikelolanya selalu berupaya melengkapi fasilitas yang ada serta meningkatkan pelayanan kepada tamu yang datang.

“Saya ingin Charlita bisa lebih berkembang dari yang sekarang,” ujar Ina Charlita yang telah merencanakan pembangunan beberapa fasilitas tambahan selain kolam renang.

Penambahan kamar, pondok dan fasilitas olahraga sedang menunggu giliran. Dan semuanya lagi-lagi bergantung pada kemampuan finansial yang harus dikorbankan dari kantong pribadi guna mewujudkan rencananya, membangun Nias melalui pariwisata.

Semi Waterboom

Tidak mau ketinggalan dengan sarana hiburan di kota besar, seperti Dufan yang ada di Jakarta. Kini Pantai Charlita dilengkapi dengan fasilitas semi waterboom. Kalau selama ini masyarakat Nias hanya melihat melalui televisi, kini tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk merasakan sensasi guyuran air dari sebuah tong dari atas.

“Kalau waterboom kan seluncuran dan terowongannya lebih panjang dan tinggi terus berkelok-kelok, sedangkan yang ada disini seluncuran dan terowongannya pendek,” tutur Ina Charlita tentang alasan diberi embel-embel semi waterboom.

Ide pembuatan kolam renang semi waterboom ini sendiri muncul dari sang pemilik yang ingin terus menarik kunjungan wisatawan ke tempat tersebut, setelah sempat berkeliling dibeberapa daerah wisata di Indonesia tahun 2010.

Kolam renang seluas 800 meter persegi ini mulai dikerjakan tahun 2009 dan resmi dibuka sejak akhir Desember 2010 lalu. Disini juga tersedia fasilitas tambahan seperti kamar mandi dan restaurant yang mengitari sekeliling kolam.

Jadi, bila bosan berenang para pengunjung dapat menikmati sensasi meluncur melalui seluncuran. Bisa juga bermain basket ditengah kolam renang. Bermain basket akan semakin seru bila air yang tertampung pada drum penampung air yang berada tepat diatas ring basket tumpah saat penuh. “Semua peralatan ini didatangkan dari Medan,” ujar Ina Charlita.

Tapi jangan salah, air yang digunakan di kolam renang adalah air laut. Anda harus hati-hati, karena bisa membuat mata perih. Sebaiknya anda menggunakan kacamata renang atau jangan terlalu lama berada di dalam air.

“Tapi air laut itu juga bagus sebagai terapi. Pernah saya lihat ada orangtua yang lama berendam dan ketika saya tanya, katanya dokter bilang kalau air laut itu bagus untuk terapi tulang dan asam urat,” cerita Ibu beranak tiga ini.

Karena alasan itu, satu lagi fasilitas kolam renang khusus untuk orang dewasa sudah mulai dibangun yang rencananya akan diselesaikan dalam tahun ini.

Tersedianya kolam renang dengan fasilitas permainan membuat pengunjung betah berlama-lama di sana, misalnya saja Kristian Lase (20). Ia mengaku sangat menyukai fasilitas kolam renang semi waterboom yang terbilang baru pertama di daerah ini. “I like it!” katanya.

Kehadiran fasilitas kolam renang dengan semi waterboom di Pantai Charlita ini cukup memberikan warna baru bagi masyarakat Gunungsitoli dan sekitarnya, untuk menghabiskan waktu berlibur dengan keluarga.

Bila Anda mempunyai rencana untuk berlibur bersama keluarga atau sahabat, Anda cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 pada hari Minggu atau hari libur, sedangkan hari Senin sampai Sabtu harga tiket masuk Rp 5.000. (Anoverlis Hulu)

Letak geografis Kepulauan Nias

Nias (bahasa Nias Tano Niha) adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia. Pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini merupakan obyek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, lompat batu.
Pulau dengan luas wilayah 5.625 km² ini berpenduduk 700.000 jiwa.
Agama mayoritas daerah ini adalah Kristen Protestan. Nias saat ini telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.

Tsunami & gempa bumi 2004 dan 2005
Pada 26 Desember 2004, gempa bumi Samudra Hindia 2004 terjadi di wilayah pantai barat pulau ini sehingga memunculkan tsunami setinggi 10 meter di daerah Sirombu dan Mandrehe. Korban jiwa akibat insiden ini berjumlah 122 jiwa dan ratusan keluarga kehilangan rumah.
Pada 28 Maret 2005, pulau ini kembali diguncang gempa bumi, tadinya diyakini sebagai gempa susulan setelah insiden Desember 2004, namun kini peristiwa tersebut merupakan gempa bumi terkuat kedua di dunia sejak 1965. Sedikitnya 638 orang dilaporkan tewas, serta ratusan bangunan hancur.
Hampir tidak ada bangunan perumahan rakyat di seluruh Pulau Nias yang tidak mengalami kerusakan, akibat gempa itu.
Menurut Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias, bencana telah menyebabkan 13.000 rumah rusak total, 24.000 rumah rusak berat, dan sekitar 34.000 rumah rusak ringan. Sebanyak 12 pelabuhan dan dermaga hancur, 403 jembatan rusak dan 800 km jalan kabupaten dan 266 km jalan provinsi hancur. Sebanyak 723 sekolah dan 1.938 tempat ibadah rusak.
sumber : Wikipedia.org